Campur Sari

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
cetakKirim ke TemanKirim ke AdminisatorKirim KomentarAmbil kode untuk halaman html
Program Jawami' al Kalim
CD ' DVD
    Program Jawami' al Kalim
    Program Jawami' al Kalim: merupakan ensiklopedi hadits yang mencakup 1400 refrensi buku hadits , 543 diantaranya masih dalam bentuk manuskrip yang belum dicetak dan diteliti juga disertai 70.000 biografi para perawi hadits dengan fasilitas tajhrij dan pencarian yang sangat bagus bagi para pelajar dan peneliti.

13 Mar 2012

Guru Sebagai Pembimbing

Memupuk Kesadaran Tentang
Peran Guru Sebagai Pembimbing Generasi Penerus

Kebanyakan guru sangat sadar akan perannya sebagai pengajar suatu mata pelajaran, tetapi kurang sadar akan perannya sebagai pendidik yang harus membimbing murid-muridnya mempersiapkan diri menjadi penerus perjalanan bangsa.

”Saya guru matematika!” “Saya guru bahasa Inggris!” “Saya guru sejarah!” Ucapan-ucapan seperti inilah yang selalu kita dengar dari guru-guru kita. Jarang sekali kita dengar seorang guru mengatakan, bahwa dia adalah guru pembimbing para siswa.

Dalam setiap kegiatan pembelajaran terdapat tiga kegiatan yang salug berbeda, tetapi saling berhubungan. Ketiga kegiatan ini ialah
·         teaching, yang mengantarkan murid kepada pemahaman pengetahuan (knowledge);
·         training yang membimbing murid kepada penguasaan keterampilan,; dan
·         educating yang membawa murid kepada pengenalan, pemahaman, dan penghayatan nilai-nilai.

Secara populer sering juga dikatakan, bahwa ketiga tindakan ini bertujuan mengantarkan murid kepada pengetahuan, ketrampilan , dan kearifan (wisdom) . Ketiga hal ini merupakan tujuan akhir dari setiap tindakan pendidikan, tujuan dari setiap educatinal act.

Dalam kenyataan kita lihat,bahwa pendidikan di sekolah sangat menekankan penguasaan pengetahuan, kurang memperhatikan pemupukan ketrampilan, dan sangat mengabaikan pembinaan kearifan. Ini merupakan tradisi pendidikan sekolah yang sangat dipengaruhi oleh pikiran-pikiran Sir Francis Bacon sejak Abad XVII. Praktek pendidikan ini lalu malahirkan semboyan Knowlledge is Power.
Mungkin  tradisi inilah yang menyebabkan, bahwa kaum guru lalu menjadi sangat sadar akan peranannya sebagai penerus dan penyebar pengatahuan (kennisoverdrager), dan kurang menyadari, bahwa di samping itu guru juga harus membina kearifan murid melalui pendidikan nilai-nilai dan pemahaman apa yang mereka ketahui. Pada dasarnya dewasa ini terlampau banyak hal yang kita ketahui tanpa kita ketahui maknanya. Maka lahirlah “pengetahuan hampa makna” (meaningless knowledge). Nilai-nilai yang kita pelajari pun banyak yang kita kenal tanpa kita ketahui maknanya. Nilai-nilai semacam ini menjadi “nilai hampa makna”  (meaningless values). Gabungan antara pengetahuan hampa makna dengan nilai hampa makna inilah yang lalu banyak melahirkan perlilaku-perilaku yang bersifat “serba semu”, penuh dengan kepura-puraan dan kepalsuan.

Praktek pendidikan sekolah seperti ini tidak akan dapat melahirkan commitment  murid-murid kepada masa depan bangsa. Tidak akan dapat melahirkan pada diri murid tekad untuk mengabdikan hidup mereka kepada kesejahteraan bangsa di masa yang akan datang.

Kelangsungan eksistensi bangsa merupakan suatu keharusan. Betapapun banyaknya kesalahan yang kita lakukan selama ini, betapapun menyedihkannya keadaan kita sekarang ini, kita tidak punya pilihan lain, kecuali bersaha sekuat tenaga melanjutkan kehidupan bangsa dengan jalan memperbaiki segenap perilaku kita. Bangsa yang tidak mampu membentuk tekad seperti ini dalam keadaan krisis akan menghadapi kepunahan.

Tugas untuk melanjutkan eksistensi bangsa ini terutama terletak di pundak generasi muda. Besar-kecilnya kemampuan suatu generasi muda untuk menjaga kelangggengan eksistensi bangsa sangat bergantung terutama kepada pendidikan yang mereka terima di sekolah. Kalau pendidikan yang mereka terima di seklolah bersifat relevant dan bermutu, maka tugas melanjutkan eksistensi bangsa itu akan terasa relatif ringan,
Tetapi kalau pendidikan yang diberikan kepada generasi muda itu bersifat tidak relevant, maka tugas melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh genersi sebelumnya akan terasa sangat berat. Kegagalan dalam mengambil alih tugas mengelola masyarakat dan negara dari generasi tua akan menghasilkan apa yang sekarang disebut sebagai tailed state. Dan sekarang ini oleh PBB kita sudah dikategorikan menjadi failed state yang ke 57 di dunia ini.

Kapankah akan lahir generasi yang dapat mengangkat bangsa dari situasi failed state ini? Pertanyaan ini tidak akan dapat kita jawab dengan baik pada saat ini. Kita hanya dapat berjanji untuk mereformasi pendidikan sesuai dengan persoalan yang dihadapi bangsa.

Apa esensi dari kemampuan membimbing generasi muda?

 Menurut pendapat saya pada dasarnya inti dari kemampuan ini ialah kemampuan mendapatkan kepercayaan dari para murid, bahwa guru perduli terhadap masa depan mereka; bahwa guru sungguh-sungguh mempunyai perhatian mengenai masa depan para murid. Pengertian ini mengandung pengertian, bahwa guru mengetahui cara para murid memahami keadaan yang ada pada waktu sekarang ini.

Pemahaman seperti ini tidak mungkin tumbuh kalau guru hanya berkomunikasi dengan para murid melalui materi yang terdapat dalam mata pelajaran yang diampunya saja. Hubungan guru-murid yang diwarnai empati hanya akan terbentuk apabila guru bersedia menghadapi murid-muridnya tanpa dibebani oleh posisi resminya sebagai guru.

Dalam hubungan yang seperti ini baru akan mungkin bagi murid untuk mencurahkan segenap pikiran serta perasaan mereka mengenai segenap harapan dan kekhawatiran yang mereka rasakan dalam menghadapi masa depan mereka.

Hanyalah setelah hubungan yang bersifat pribadi antara guru dengan murid-muridnya ini menjadi cukup akrab baru akan mungkin bagi guru untuk mengemukakan pendangan-pandangannya mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh para murid untuk menyongsong masa depan mereka bersama dan masa depan mereka masing-masing.

Perlu saya tekankan di sini, bahwa tugas membimbing para murid seperti ini dapat dilakukan oleh setiap guru, apapun mata pelajaran yang diampunya. Tentu saja guru mata pelajaran yang satu mempunyi peluang yang lebih besar untuk menjadi pembimbing para siswa menuju ke kemandirian mereka daripada guru mata pelajaran yang lain. Guru sejarah mempunyai peluang yang lebih besar daripada guru matematika untuk menjadi pembimbing siswa seperti yang saya uraikan ini secara wajar.

Tetapi faktor yang sangat penting dalam soal bimbingan siswa seperti ini ialah wibawa, yaitu rasa hormat yang tumbuh dalam diri murid karena sifat-sifat guru yang mereka hargai. Wibawa ini dapat dipupuk. Wibawa tumbuh dengan pengalaman.

Sebagai catatan akhir ingin saya tambahkan, bahwa banyak-sedikitnya guru dengan kesadaran pembimbing ini dalam sekolah-sekolah kita akan turut menentukan lambat atau cepatnya bangsa kita bangun dari segenap keterpurukan yang sedang kita alami sekarang ini. Kalau jumlah guru dengan kesadaran pembimbing cukup banyak, maka jumlah generasi muda yang bersedia mengabdikan sebagian dirinya kepada masa depan bangsa akan cukup banyak pula. Tetapi kalau jumlah guru dengan kesadaran pembimbing ini sangat sedikit, maka jumlah siswa yang bersedian untuk menyumbangkan tenaga dan pikirannya juga akan berjumlah sedikit saja. Kebanyakan akan tetap lebih banyak berpikir bagaimana menjamin masa depan pribadi       mereka melalui pekerjaan-pekerjaan yang aman dan nyaman.

Semoga Tuhan selalu menunjukkan jalan yang harus kita tempuh bersama untuk menyelematkan masa dapan bangsa. Amin!

0 komentar:

Poskan Komentar

Mohon Tinggalkan Komentar teman-teman tentang blog ini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Ganti Warna Background

Photobucket Ayo Sekolah ...........
Terima kasih atas kunjungan tamu saya yang istimewa, semoga ada manfaat yang bisa diambil

Followers

REAKSI ANDA TERHADAP BLOG INI

Daftar Video

Loading...

Translator

  ©Template by Blogger. Design By Palga